Pengemis Profesional

Cerpen Karangan: 

Kategori: lucu
Lolos moderasi pada: 18 October 2017
Entah mimpi apa Rian tadi malam, siang ini ia hanya ingin pergi ke toko buku untuk mem-fotocopy beberapa materi perkuliahan, namun ketika hendak masuk ke dalam toko, ia bertemu dengan pak Saleh -pengemis tua yang terduduk lesu tanpa energi di sisi pintu toko.
Rian awalnya hanya mengabaikan ketika masuk, namun sebagai mahasiswa berhati mulia, bunyi mesin fotocopy pun tak mengalihkan fokusnya pada Pak Saleh, setelah selesai ia memasukkan kerjaannya itu ke dalam ransel, lalu beranjak ke luar. Rian menawarkan tumpangan kepada Pak Saleh, sungguh mengundang iba penampilannya, dengan umur sekitar 80 tahun (menurut Rian), menggunakan kemeja batik coklat yang sudah pudar, celana dongker yang kelihatannya adalah celana MDA, dan topi merah putih yang lambangnya sudah terhapus sebagian -topi anak SD.
Pak Saleh menjawab tawaran Rian dengan senyum yang bergetar, “Ya Allah” gumam Rian dalam hati, “ke mana arahnya ini?”, Pak Saleh mengatakan kalau rumahnya sekitar 1 km dari toko buku itu.
7 menit kemudian, memasuki komplek perumahan elite Peace Garden,
Rian awalnya tak percaya ketika Pak Saleh menepuk pundaknya “di sini nak”, rumah dimana mereka berhenti adalah rumah yang bukan mewah, tapi MEWAH. Awalnya Rian berpikir itu rumah majikan Pak Saleh, kalau ternyata Pak Saleh adalah pembantu dan menjadikan mengemis sebagai kerja part-timenya.
Pak Saleh mengajak Rian masuk, Rian dengan segan menolaknya, tetapi pada akhirnya Pak Saleh berhasil
membujuk. Ketika pintu rumah itu dibuka, yang pertama kali Rian liat adalah karpetnya, yang terbuat dari kulit harimau asli, furnitur-furnitur semuanya asli jati, dan rumah tingkat 2 itu memiliki tangga kaca yang tebal dan bersih, sehingga Rian bisa melihat ikan-ikan yang ada di dalam tangga tersebut -yang juga akuarium.
Tak puas pamer, Pak Saleh mengajak Rian ke halaman belakangnya, “golf bentar yuk nak”, Rian seperti terhipnotis terus memandangi isi rumah itu, ketika pintu belakang dibuka, yang menampilkan lapangan golf dengan rumput import dan beberapa tanahnya dibuat menyerupai bukit, sedangkan 3 carry terpakir rapi di dekat gazebo, kaki Rian seolah tertarik ke tanah dan membuatnya langsung berlutut dengan tatapan kosong.
Pak Saleh mendekatinya, dan menepuk-nepuk pundak Rian sambil tersenyum mafia,
“Kau juga bisa, nak, semua ini, nah semua berasal dari niat, nak, niat bahwa kau akan bertekad untuk menjadi pengemis profesional, abaikan saja motor kharismamu yang belum dikunci stangnya, mari kita main golf sejenak”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cermin Masa Depan

Maafkan Aku Bu