Mereka Menyalahkanku atas Pergimu

monogatari.
“Sini, biar aku ejakan kamu sebuah kisah. Hanya berbagi, bukan untuk dikasihani. Sebuah cerpen untuk mengenang 9 tahun tanpanya. Dan kami memang merindukanmu, Ayah.”
Aku memperhatikan gundukan tanah b
erkeramik itu lama. Berdiri dihadapannya dan terpekur beberapa saat. Warnanya merah muda. Di bagian paling depan ada sebuah nisan dengan nama dan tanggal yang masih setia menempel disana bertahun-tahun. Tidak buram dan masih jelas dibaca. Nama seseorang yang paling dekat denganku dan dipaksa untuk pergi disaat itu.
erkeramik itu lama. Berdiri dihadapannya dan terpekur beberapa saat. Warnanya merah muda. Di bagian paling depan ada sebuah nisan dengan nama dan tanggal yang masih setia menempel disana bertahun-tahun. Tidak buram dan masih jelas dibaca. Nama seseorang yang paling dekat denganku dan dipaksa untuk pergi disaat itu.
Sepi, dan aku sendirian disini. Semilir angin membawa aroma bunga kamboja yang sengaja ditumbuhkan di sebelah kuburannya sebagai peneduh, menyerbak kemana-mana. Menambah makna tentang pemakaman adalah tempat peristirahatan terakhir yang paling indah. Karena hanya suasana tenang dan damai yang ada disini. Sepi sekali. Jauh dari hingar bingar kendaraan jalan yang biasa aku nikmati dirumah. Jauh dari suara bising di tengah kota, terpinggir. Jauh dari suara-suara gaung orang yang menyesakkan karena menyalahkan aku atas kepergianmu.
Kuperhatikan sekeliling dan Tidak ada siapapun. Memang hanya aku sendiri tampaknya. Tentu saja, ini bukan saat biasanya setiap keluarga berkunjung untuk berziarah. Biasanya di bulan Ramadhan-lah orang-orang akan berbondong-bondong “menjenguk” keluarganya yang sudah meninggal. Tapi tidak ada alasan untuk melarang orang datang kesini sekalipun bukan waktu yang tepat ya kan?
Aku hanya rindu.
Jadi aku datang kesini.
Aku berjongkok tepat di sebelah kanan gundukan tanah itu, kemudian menyebar-nyebarkan kelopak bunga yang sengaja aku kumpulkan seraya sesekali membersihkan bagian atas makamnya dari daun-daun kering. Kusiratkan senyum untuk menunjukkan padanya aku baik-baik saja, kemudian kuelus bagian kepala nisannya.
“aku datang, Ayah.”
Gumamku pelan.
aku terdiam lama. Keheningan disini mendukungku untuk mengingat sosoknya yang belum bias dari pikiran. baiklah, Sejujurnya pikiranku kacau, jauh menerawang kemana-mana. Bingung bagaimana harus memulai cerita pada ayah tentang apa saja yang sudah dilewatkannya selama beberapa tahun ini. Aku datang dengan rindu yang begitu besar, dan aku ingin bercerita seputar beban yang memang hanya dengannyalah aku bisa berbagi bebas. Tetapi yang muncul pertama kali malah betapa tragis dan menyedihkannya saat ayah harus memutuskan untuk pergi meninggalkan aku sendirian disini. Di dunia ini.
Aku masih begitu ingat saat itu.
Masih lekat dalam otakku.
Pagi menjelang siang saat itu. Jalanan di sekitar pinggiran pertokoan terang benderang. ketumpahan cahaya Matahari yang sudah tidak malu-malu lagi menyiratkan kabar bahwa hari akan segera memanas. Manusia satu persatu lalu lalang. Sibuk dengan urusannya, masing-masing membawa sebaris-baris kalimat yang diulangi berulang kali layaknya mantra, yaitu setumpuk Tujuan mereka melakukan aktivitas hari ini. Dan aku mungkin ada diantara salah satu didalamnya.
Menuju rumah.
Aku mengayunkan kaki perlahan bergantian maju ke depan. Kanan, kiri, kanan, kiri. Kanan, kemudian baru kiri. Begitu seterusnya. Menyusuri pertokohan dan melewati berbagai jenis manusia dengan berbagai rupa, lengkap dengan bawaan dan kasak kusuknya. Terus, terus, dan terus. Hingga tak terasa langkah ini membawaku pada barisan pepohonan besar di pinggir sebuah lapangan sepak bola. Wajahku masih tertunduk geram, bertumpuk guratan kesal. Ayah lagi-lagi lupa menjemputku di tempat kursus hari ini. Sehingga disinilah aku sekarang, berjalan pulang sendiri. Memberanikan diri karena ayah sudah tidak muncul disana sekitar 1 jam yang lalu. Siapapun di dunia ini tidak ada yang suka menunggu, apalagi aku.
“dyta!” jerit seseorang di belakangku. Sontak membuatku kaget dan segera menoleh cepat, mencoba mengenali suara di sela-sela jantungku yang berdegup kencang.
“pak? Ada apa?” tanyaku saat mengenali ia adalah kakak sepupuku. Yang juga seorang guru di SMPku. Aku mendekatinya tergopoh-gopoh, memandanginya lama karena melihat hal yang tidak biasa pada dirinya. Wajahnya diliputi keburaman, mengiba memperhatikanku, dan kemudian berujar, “ayah kamu kecelakaan. Ayo, kerumah sakit sekarang.”
Hening.
Seakan ada kaca yang pecah tapi tak berisik. Pecahannya menghambur kemana-mana, mengenai semua bagian tubuhku, membuatku lemas dan mengadu kesakitan karena luka. Serasa ada dalam lonceng yang beradu. Hening, tak bersuara namun mampu membuat tubuh ikut gemetar.
Aku segera menaiki motor yang ia bawa. Dalam hati aku terus bertanya-tanya. Ini semacam mimpi atau Cuma lelucon kecil? Ayah masih segar bugar pagi tadi, bahkan bercanda tentang masakan ibu yang keasinan tapi nikmat. Ayah masih segar bugar saat mengantarku ke tempat kursus, ayah masih baik-baik saja saat terakhir kali kening ini bersentuhan dengan telapak tangannya yang besar. Ayahku baik-baik saja.
Semacam disambar petir, kemudian mampu membuatku kehilangan rasa. Lidah ini kehilangan kekuatan untuk berkata-kata, lemas sekujur tubuh. Aku mendapati ayah yang terbaring lemah diatas ranjang pasien.
Diam.
Tak bergerak.
Matanya tertutup, dan terpasang beberapa selang transparan panjang dengan beberapa selang yang memiliki jarum-jarum pada ujungnya, menelusuk tangannya yang kekar dan hitam. Aku berjalan terseok, semakin mendekat. Dan kemudian menumpahkan tangis di sisi ranjang itu. Ibu hanya beberapa kali mengucapkan kata istigfar di kursi panjang putih tepat didepan ruangan ayah dirawat, wajahnya datar, berusaha menyembunyikan ketakutan dan perasaan khawatir. Beberapa sahabatnya bergantian memeluknya, menenangkan.
Aku menarik nafas panjang dan memaksakan diri setegar ibu walau sulit. Aku berjalan mendekati ibu, mendapati tubuhnya bergetar dan matanya masih menuju kearah yang sama, ayahku.
“ayahmu, tabrakan dengan anak seumuranmu.” Ujar sahabat ibu. Wanita separuh baya itu mengalihkan pandangannya ke arah ruangan di sebelah ruang ayah. Tampak sepasang suami istri dengan anak lelakinya yang terbaring dalam keadaan sadar di atas ranjang. Wajahnya tak terlihat jelas karena ia memandang kearah yang berlawanan. Ibunya tengah meraung-raung keras, menyalahkan ayah, dan terus mengutuk keluarga kami.
Aku geram dan rasanya ingin marah saja. Ayahku dalam keadaan tidak sadar hei kamu wanita bodoh! Anakmu masih mampu melihat seisi ruangan dan berkata-kata, sedangkan ayahku tidak kunjung membuka mata atau berujar minta maaf karena telat menjemputku!
Hati ini terus memaki walau aku sadar tidak ada yang patut disalahkan disini.
Beberapa orang berseragam putih tengah sibuk mempersiapkan ambulans. Fasilitas di rumah sakit ini tidak mampu menyokong kondisi ayah yang dalam keadaan koma, dan mau tak mau harus dibawa ke rumah sakit terdekat yang lebih besar. Mereka memasangkan semacam berangus di mulut ayah, mendorong ranjang pasien dengan sigap dan bercakap dengan ibu.
Aku memperhatikan ambulans ayah dari kejauhan. Entah kenapa seketika aku tak bergeming. Seperti ada semacam bangunan runtuh di dalam kepalaku. Orang orang di dalamnya teriak, jejeritan, berlari kesana-kemari. Namun Aku hanya terus berdiri pada satu tempat dan diam. Sebegitu parahkah kondisi ayah? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan dan aku dengar dari ayah.
Sadarlah. Bangunlah.
Aku masih benar-benar membutuhkanmu.
Aku tersadar ketika terasa pipi ini basah, aku menangis. Kuperhatikan sekeliling karena malu bila tiba-tiba ada orang yang memperhatikan dan sesegera mungkin mengusapnya. Menengadahkan kepala dan berusaha agar tidak kebablasan. Bukan hal yang baik untuk menangis di hadapan ayah. Kutarik nafas panjang agar sedikit ada ruang lega untuk bercerita kembali pada ayah. Sekedar melepas beban yang sudah aku tanggung sendiri sepanjang tahun ini.
Seandainya aku bisa lebih bersabar menunggumu menjemputku saat itu. Ada rasa bersalah karena marah padamu sesaat sebelum tahu kejadian buruk ini terjadi.
“aku benar-benar membutuhkanmu. Ingin cerita, seperti dulu. Aku hanya merasa sendirian akhir-akhir ini.”
Gumamku lagi tanpa sadar.
Sejujurnya aku lelah berujar tidak adil pada Tuhan, karena aku tak kunjung menemukan jawaban. Belum lagi menghadapi orang-orang sekitar yang mencemooh aku karena menurut mereka kekanak-kanakan sekali untuk terus menerus meratapi pergimu. Aku hanya bisa menahan dan menenangkan diri, mengatakan bahwa mereka bukan aku, tidak dalam posisi dimana aku berdiri saat itu, dan aku memaksa diri untuk memakluminya sekalipun ceracaunya sudah keterlaluan. Mereka tidak akan bisa mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan dengan cara demikian menyedihkan, oleh orang yang menjadi pengukuh dalam keluarga, tonggak utama tempat dimana kami berlindung pertama kali, mengaduh, bercerita dan menangis sekalipun.
Imam kami.
Hingga kemudian ketika ia pergi, semua tanggungan dijatuhkan ke masing-masing anggota keluarga yang masih lugu. Kami berjuang menghadapi ekonomi keluarga yang mulai bermasalah, berjuang menghadapi cemooh orang, bahu membahu meriuhkan suasana dirumah yang mulai sepi,
walau akhirnya tidak ada gunanya.
Aku anak tertua dirumah. Bukan hal yang bijak untuk merengek-rengek meminta pada ibu untuk mengembalikan momen penting yang hilang dari keluarga kami, seperti piknik selepas kenaikan kelas, makan bersama dalam satu meja dirumah, memilih untuk menyanyikan lagu di malam hari ketimbang termanguh diam di depan televisi, bahkan sholat berjemaah seperti dulu yang biasa kami lakukan bersama. Aku harus bisa diandalkan sekalipun sebagai tempat mereka membuang masalah, setidaknya menjadi tempat menceritakan tanpa ragu, membuat orang-orang yang aku cintai merasa longgar dari kemelut sampah yang namanya hidup. Hanya saja kadang aku tergoda untuk terduduk begitu lama, diam di tempat. aku juga ingin didengar untuk bercerita sekedar berujar aku lelah. Dan inilah yang biasanya aku lakukan, aku datang ke ayah, satu-satunya buku harian bernama yang bisa aku percaya untuk memegang rahasia kecil sekalipun, hanya ia. walau kini ia tak mampu memberi solusi karena terus membisu, namun setidaknya hal ini mampu menguatkan aku.
aku merindukan saat ia masih disisi kami, rumah masih berwarna, riuh karena mainan gitar dan pianonya, ramai, dan dibaluti kehangatan karena tawa yang tercipta karenanya. tidak sesepi ini, tidak seperti ini, lagi-lagi kata sendirian masih menjadi topik utama dalam setiap kisah yang aku ceritakan.
“Ya. aku lelah. oleh karena itu aku datang Ayah, izinkan aku melepas lelah sejenak dihadapanmu. ” ujarku pelan seraya memandangi nisan yang tak kunjung membalas perkataan sedari tadi. kokoh, diam, berdiri disitu.
Seandainya orang lain tahu adanya penyesalan terbesar yang aku alami hingga kini, karena bahkan hingga di saat terakhir pun, aku tidak sempat mengucapkan apa-apa padanya. Ia koma dan tidak memilih untuk bangun sekedar mengatakan “dyta, nak, kamu pulang sama siapa tadi? maaf membuatmu menunggu, ayah telat menjemputmu nak.”
Ia tidak kunjung memberi alasan yang tepat.
Aku menertawakan diriku sendiri. Mengingat bagaimana orang mengabaikan perasaan hancurku karena kehilangan dirimu, dan malah menyerangku dengan kalimat diam-diam yang malah kian membuat aku jera untuk melakukan berbagai hal.
Kamu semacam makhluk mengerikan. Pembawa sial. Keluargamu hancur kan karena kamu. Kamu penyebab ayahmu pergi, kalau bukan karena menjemputmu tidak akan ada kejadian buruk ini! kamu yang seharusnya pergi! kasihan ibumu, harus berjuang sendiri! Kasihan adikmu! Harus menghadapi masalah padahal masih sekecil itu! Ibumu pun Mencari uang sendiri, dan kamu terus menerus hanya membangkang. Tidak tahu malu, anak macam apa kamu?
Dan sejuta pernyataan makin kian jelas saat ini, dan aku hanya mampu diam. Menahan geram yang sakit. Menambah angkuh dan menuruti perkataan ibu untuk bersikap tak peduli saja karena sejumlah orang yang bahkan bukan anggota keluargaku pun tak kalah sibuk memberi beribu cap buruk padaku.
Mereka sibuk menyalahkan kepergian ayah padaku.
“Apakah aku terlalu naif untuk menyalahkan Tuhan, ayah?”
Gumamku lagi seraya tersenyum.
Aku menarik nafas panjang kembali. Diam sejenak, kemudian mencoba mengagungkan Tuhan dengan serangkai doa yang aku sampaikan untukmu. Meminta Tuhan untuk memberimu tempat yang indah disana, memberimu kebahagiaan yang nyata dan dapat memberikanmu kesempatan untuk tersenyum, saat Tuhan menunjukkan kami baik-baik saja disini.
“selalulah ada dalam hatiku agar aku kuat, Ayah. aku akan mulai berdiri lagi hari ini. Terima kasih untuk memberiku tenaga kembali. Katakan pada Tuhan aku adalah anakmu yang paling kuat.”
Aku beranjak berdiri. Masih memandang nisannya yang masih begitu berdiri kokoh, aku ingatkan diriku pada nasihatmu dan senyum yang dulu terbiasa menguatkanku.
Aku terdiam lama. Masih berdiri termenung. Membiarkan diri diombang-ambing dengan perasaan yang bingung bagaimana menjelaskannya. Langit sudah mulai tanpak kelabu dan aku tidak mungkin berlama-lama disini hingga larut.
Aku hanya masih begitu merindukannya.
“ayah. aku tahu suatu hari akan ada alasan tepat yang bisa kau jelaskan pada kami mengapa ini menimpa keluarga kita. Saat semua sudah sempurna, saat semua sudah kembali pada-Nya seperti yang sudah Tuhan lakukan padamu, maka datanglah. Tapi tidak dengan terburu-buru, datanglah dengan jemputan yang dulu kau janjikan. Aku berjanji akan menunggu dengan sabar kali ini. Aku tau kau tidak akan membiarkan aku menunggu sendirian seperti dulu. Aku tau kau akan datang.”
Ujarku pelan dalam hati. Kukecup nisannya sesaat. angin masih semilir mengiringi langkahku yang kian menjauh. Diiringi harumnya kamboja yang masih memberi makna tentang damainya rumah Ayah disini. Aku melangkah pergi diiringi kisah-kisah yang masih bertumpuk, seputar cerita klasik yang masih berputar pada mereka yang masih mencari pembenaran dengan menyalahkan aku atas pergimu,
entah harus bagaimana aku selesaikan nanti,
Entahlah.
aku masih memiliki ibu dan adik. mereka adalah orang-orang yang masih membutuhkanku, orang-orang yang kucintai dan menungguku dirumah saat ini.
karya dari sobat KC2R :
Komentar
Posting Komentar